Sunday, January 4, 2009
Formulir Pendaftran Bumiayu.net Try Out Online
Labels:
bumiayu.net,
online,
SD,
slta,
sltp,
syamsul maarif,
try out
Friday, January 2, 2009
formulir Pendaftaran Bumiayu.net Try Out On-Line
bagi yang mau menguji kompetensi diri, dalam menjawab soal-soal ujian nasional
so....you have to register to bumiayu.net try out On-line
formulir pendaftaran bisa di download.
klik saja download
so....you have to register to bumiayu.net try out On-line
formulir pendaftaran bisa di download.
klik saja download
Labels:
bumiayu.net,
formulir,
try out online
Thursday, January 1, 2009
bumiayu.net: game On-line Centre

BUMI@YU.NET GAME ONLINE CENTREdear,
Spesial bulan januari 2009;
bumiayu.net meningkatkan kembali pelayanan kepada pelanggan,
setelah meningkatkan kecepatan Up to I (satu) mb
kini bumiayu.net menyediakan fasilitas:
Webcam Gratis, Monitor LCD, Game Online dan
special Malam : main diatas 2,5 jam (malam) Gratis Softdrink.
main 5 (lima) jam Gratis 1 Jam.
Spesial Siang: main diatas 4 Jam Gratis sofdrink
Harga /jam Tetap
MEMBER BUMIAYU.NET
Kami Buka Paket Member dengan Pendaftaran Rp. 10.000,-
fasilitas member:
mendapatkan Info hangat tentang seputar Lowongan Kerja via E-mail.
pastinya main lebih murah dan setiap main di atas 3,5 Jam
siang-malam Gratis Sofdrink
Bumiayu.Net Try Out On-Line
Bulan Januari 2009 Bumiayu.net juga membuka pendaftaran TRY OUT ON_LINE
untuk ajang uji kompetensi untuk siswa.
pendaftaran: Rp. 15.000,-
sasaran: siswa-siswi SD/SLTP/SLTA semua Jurusan
formulir pendaftaran bisa didapat langsung
kantor bumiayu.net
Pastikan Warnet Anda Bumiayu.net
Jl. RSU No 2 Bumiayu
Telp. 0289-430837
e-mail: bumiayu.net0@gmail.com
web: http://javanese-education.
thanks for ALL support
Labels:
Bumiayu,
bumiayu.net,
game online,
promo
Sunday, December 28, 2008
Masyarakat Gila Ijazah
Dalam pembukaan UUD 45 tertulis jelas bahwa maksud dan tujuan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. kemudian pendidikan saat ini sedang digalakkan program wajib belajar sembilan tahun. lantas alokasi dana pemerintah untuk pendidikan pun meningkat hingga 20%. Kami semua seakan-akan mengamini untuk keberhasilan pemerintah dalam memberantas buta hurup (Illeterate Society). Walhasil tempat pendidikan (sekolah) berdiri dimana-dimana, seolah-olah tanpa memandang layak atau tidak, bermutu atau tidak yang penting sekolahan berdiri dan dana bantuan bisa ngucur dari pemerintah.
Sekolah kelas jauh pun berdiri dimana-dimana, saat kelas jauh tidak diperkenan, alih-alih mereka membuka kelas reguler yang berangkatnya sama dengan kelas jauh, kuliah satu minggu, dua kali dalam seminggu. patutkah saya menanyakan kwalitas mereka? mereka yang kuliah setiap hari saja kwalitasnya dipertanyakan, lah kok kuliah satu minggu dua kali. Ironisnya yang mendirikan sekolah tersebut justru orang "dalam sendiri".
Apa yang mereka cari dari kuliah tersebut? betulkah mereka mencari kecerdasan? atau hanya sekedar obsesi atas ampuhnya ijazah? tuntutan profesi? atau bahasa yang tidak sesonoh karena mereka semua Gila Ijazah? silahkan pertanyaan tersebut kita jawab dalam renungan sehat.
Menyoal pendidikan? Reformasi mengharap agar alokasi anggaran pendidikan ditambah dengan harapan akan menjadi solusi keterbelakang masyarakat. pada level tertentu sebagian kecil berhasil, tetapi lebih banyak yang menyelewengkan anggaran tersebut menjadi kesempatan. Karena biasa memegang uang "seratus perak" sekarang memegang uang jutaan. rupanya para pejabat terkena "sock sindrom", yang begitu dahsyat. Sehingga pada level tersebut saya menganggap bahwa dunia pendidikan sekarang sedang mati, yang hidup hanya ruhnya saja.
beberapa dari kita mungkin menyadari hanya beberapa dari kita juga tidak mampu berbuat banyak kecuali hanya berbuat untuk dirinya. bahkan beberapa dari kita terpenjara dan terlibas arusnya karena saking derasnya arus penyelewengan.
Masyarakat Gila Ijazah?
apakah masyarakat sudah gila Ijazah?
apa faktor penyebabnya?
apa yang menyebabkan munculnya pernyataan masyarakat gila Ijazah? yang pasti fakta; dimana sekarang masyarakat banyak sekali yang melihat banyak peluang mendapatkan uang hanya saja mereka terbentur tidak punya Ijazah. Sehingga mereka punya tendensi untuk mendapatkan Ijazah.
siapa yang membuat peluang? tentunya pemerintah? kenapa pemerintah membuat peluang demikian, karena pemerintah melihat bahwa masyarakat sedang butuh uang.
alurnya seolah-olah rasional. logika yang dimainkan seperti satu contoh silogisme berikut:
"barang siapa yang tidak kehilangan maka ia masih punya, Sebby tidak kehilangn ekor, maka Sebby masih punya ekor".
ini jelas menghilangkan essensi kemanusian. sama halnya dengan kebijakan pemerintah saat masyarakat membutuhkan uang, munculkan peluang untuk mendapatkan uang; syaratnya inilah yang menghilangkan essensi bahwa masyarakat adalah manusia bukan binatang. dimana sisi perbedaan manusia jelas pada kesempurnaan akal pikirannya. maka syaratpun sudah semestinya harus disesuaikan dengan essensi kemanusiaan.
Disamping itu juga Tingginya daya beli pasar terhadap perguruan tinggi tertentu mengakibatkan saat ini masyarakat mengalami kecendrungan gila ijazah dan gila gelar. Tindakan itu terjadi akibat masyarakat akan mendapatkan status pekerjaan yang lebih tinggi jika memiliki ijazah walaupun tanpa diiringi dengan keahlian yang dimiliki. "Dampak tersebut juga mengakibatkan manipulasi ijazah tidak terelakan di kalangan pejabat, masyarakat maupun yang berada dalam lembaga-lembaga tertentu dengan mencantumkan beberapa gelar dalam kartu namanya," jelasnya, sambil menambahkan fenomena tersebut tidak hanya berlaku untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga mencari seorang pendamping hidup mereka.
Jika perekrut peluang-peluang tersebut yang ada di Indonesia tidak terkecoh adanya manipulasi gelar maupun ijazah maka kemampuan calon pekerja tersebut harus dijadikan tolak ukur dan filterisasi. Dengan demikian masyarakat akan mencari kompetensi untuk menunjang mereka mendapatkan pekerjaan yang layak.
Sekolah kelas jauh pun berdiri dimana-dimana, saat kelas jauh tidak diperkenan, alih-alih mereka membuka kelas reguler yang berangkatnya sama dengan kelas jauh, kuliah satu minggu, dua kali dalam seminggu. patutkah saya menanyakan kwalitas mereka? mereka yang kuliah setiap hari saja kwalitasnya dipertanyakan, lah kok kuliah satu minggu dua kali. Ironisnya yang mendirikan sekolah tersebut justru orang "dalam sendiri".
Apa yang mereka cari dari kuliah tersebut? betulkah mereka mencari kecerdasan? atau hanya sekedar obsesi atas ampuhnya ijazah? tuntutan profesi? atau bahasa yang tidak sesonoh karena mereka semua Gila Ijazah? silahkan pertanyaan tersebut kita jawab dalam renungan sehat.
Menyoal pendidikan? Reformasi mengharap agar alokasi anggaran pendidikan ditambah dengan harapan akan menjadi solusi keterbelakang masyarakat. pada level tertentu sebagian kecil berhasil, tetapi lebih banyak yang menyelewengkan anggaran tersebut menjadi kesempatan. Karena biasa memegang uang "seratus perak" sekarang memegang uang jutaan. rupanya para pejabat terkena "sock sindrom", yang begitu dahsyat. Sehingga pada level tersebut saya menganggap bahwa dunia pendidikan sekarang sedang mati, yang hidup hanya ruhnya saja.
beberapa dari kita mungkin menyadari hanya beberapa dari kita juga tidak mampu berbuat banyak kecuali hanya berbuat untuk dirinya. bahkan beberapa dari kita terpenjara dan terlibas arusnya karena saking derasnya arus penyelewengan.
Masyarakat Gila Ijazah?
apakah masyarakat sudah gila Ijazah?
apa faktor penyebabnya?
apa yang menyebabkan munculnya pernyataan masyarakat gila Ijazah? yang pasti fakta; dimana sekarang masyarakat banyak sekali yang melihat banyak peluang mendapatkan uang hanya saja mereka terbentur tidak punya Ijazah. Sehingga mereka punya tendensi untuk mendapatkan Ijazah.
siapa yang membuat peluang? tentunya pemerintah? kenapa pemerintah membuat peluang demikian, karena pemerintah melihat bahwa masyarakat sedang butuh uang.
alurnya seolah-olah rasional. logika yang dimainkan seperti satu contoh silogisme berikut:
"barang siapa yang tidak kehilangan maka ia masih punya, Sebby tidak kehilangn ekor, maka Sebby masih punya ekor".
ini jelas menghilangkan essensi kemanusian. sama halnya dengan kebijakan pemerintah saat masyarakat membutuhkan uang, munculkan peluang untuk mendapatkan uang; syaratnya inilah yang menghilangkan essensi bahwa masyarakat adalah manusia bukan binatang. dimana sisi perbedaan manusia jelas pada kesempurnaan akal pikirannya. maka syaratpun sudah semestinya harus disesuaikan dengan essensi kemanusiaan.
Disamping itu juga Tingginya daya beli pasar terhadap perguruan tinggi tertentu mengakibatkan saat ini masyarakat mengalami kecendrungan gila ijazah dan gila gelar. Tindakan itu terjadi akibat masyarakat akan mendapatkan status pekerjaan yang lebih tinggi jika memiliki ijazah walaupun tanpa diiringi dengan keahlian yang dimiliki. "Dampak tersebut juga mengakibatkan manipulasi ijazah tidak terelakan di kalangan pejabat, masyarakat maupun yang berada dalam lembaga-lembaga tertentu dengan mencantumkan beberapa gelar dalam kartu namanya," jelasnya, sambil menambahkan fenomena tersebut tidak hanya berlaku untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga mencari seorang pendamping hidup mereka.
Jika perekrut peluang-peluang tersebut yang ada di Indonesia tidak terkecoh adanya manipulasi gelar maupun ijazah maka kemampuan calon pekerja tersebut harus dijadikan tolak ukur dan filterisasi. Dengan demikian masyarakat akan mencari kompetensi untuk menunjang mereka mendapatkan pekerjaan yang layak.
Labels:
gila ijazah,
pendidikan,
syamsul maarif
Friday, December 26, 2008
MK MEMUTUSKAN SUARA TERBANYAK
Setelah menyelami opini dari berbagai kalangan, khususnya kalangan warga ppp, alhamdulillah majelis kebangkitan ppp memutuskan yang berhak menjadi legislatif adalah mereka yang memperoleh suara terbanyak.
keputusan ini jelas lebih logis, mengingat bagaimana seorang yang tidak acceptable menjadi dewan? tentunya apabila itu terjadi maka dewan yang jadi tidak aspiratif. apalagi PPP sekarang sedang mempunyai obsesi untuk menaikan kwantiti pemilih ppp 15 %, jelas ini akan berpengaruh dan mudah-mudahan bisa. Amin ya robbal Alamin.
saya memahami kondisi perekonomian PPP saat ini sedang tahan nafas, kita semua menyadari untuk bersama-sama mengencangkan ikat pinggang tetapi inilah tantangan yang harus kita jawab bersama. dimana ditengah opini masyarakat yang sedang menthoghutkan uang, dan seakan-akan uang jadi senjata yang ampuh, kita malah tidak punya senjata itu. mudah-mudahan ini malah jadi berkah untuk ppp. sebab pendewasaan politik bukan pada banyaknya uang melainkan kecerdasan emosional berpolitik yang matang dan berwibawalah yang akan menjawab tantangan itu semua.
dan inilah saatnya kita harus bergerak maju membangun negeri. "akeh tirakate" insyaallah, Allah SWT akan memberikan berkah atas semua yang kita miliki saat ini.
keputusan ini jelas lebih logis, mengingat bagaimana seorang yang tidak acceptable menjadi dewan? tentunya apabila itu terjadi maka dewan yang jadi tidak aspiratif. apalagi PPP sekarang sedang mempunyai obsesi untuk menaikan kwantiti pemilih ppp 15 %, jelas ini akan berpengaruh dan mudah-mudahan bisa. Amin ya robbal Alamin.
saya memahami kondisi perekonomian PPP saat ini sedang tahan nafas, kita semua menyadari untuk bersama-sama mengencangkan ikat pinggang tetapi inilah tantangan yang harus kita jawab bersama. dimana ditengah opini masyarakat yang sedang menthoghutkan uang, dan seakan-akan uang jadi senjata yang ampuh, kita malah tidak punya senjata itu. mudah-mudahan ini malah jadi berkah untuk ppp. sebab pendewasaan politik bukan pada banyaknya uang melainkan kecerdasan emosional berpolitik yang matang dan berwibawalah yang akan menjawab tantangan itu semua.
dan inilah saatnya kita harus bergerak maju membangun negeri. "akeh tirakate" insyaallah, Allah SWT akan memberikan berkah atas semua yang kita miliki saat ini.
Wednesday, December 24, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)




